Laporan hasil Pertemuan di Balai Kalurahan Nglanggeran, Yogyakarta, 18 Agustus 2022

Ditulis oleh : Sarojini Imran, Ketua PKP2

 

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipilih sebagai salah satu provinsi yang dijadikan tuan rumah dalam pertemuan Group of Twenty (G20) 2022 , hal ini menjadi keputusan yang sangat tepat untuk membangkitkan kembali aura pariwisata Yogya yang telah lumpuh dalam 3 tahun terakhir akibat pandemi COVID. Provinsi DIY memiliki banyak desa berpotensi yang cukup menjanjikan untuk dikembangkan sebagai destinasi desa wisata yang mandiri dan unggul. Salah satunya Desa Nglanggeran, sebagai salah satu desa wisata terbaik di Nusantara. Ditinjau dari potensi-potensi wisata yang telah dimiliki maupun dari kesadaran wisata dan motivasi dari masyarakatnya, diharapkan dapat mengembalikan masa kejayaan wisata yang pernah dialami Desa Nglanggeran sebelum pandemi, untuk itu dibutuhkan perencanaan pengelolaan wisata yang lebih matang, khususnya dalam mengangkat beberapa potensi potensi wisata Nglanggeran yang belum dikelola secara menyeluruh. Saat ini titik wisata masih berkembang di bagian timur, khususnya Dusun Nglanggeran Wetan yang sudah dikenal dengan daya tarik seperti Embun Nglanggeran, Gunung Api Purba, Griya Coklat, padahal wilayah lainnya juga memiliki potensi yang tidak kalah menarik, namun masih membutuhkan pengembangan yang intensif.

 

Gunung Api Purba, Dusun Nglanggeran Wetan
Sumber: PKP2

 

Embun Nglanggeran, Dusun Nglanggeran Wetan
sumber: PKP2

 

Dalam usaha ini ketiga Lembaga berkolaborasi untuk mewujudkan perencanaan pengembangan wisata yang berkelanjutan, yaitu Masyarakat pengelola Desa wisata Ngelanggeran, LSM Indecon (Indonesian Ecotourism Network), dan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila. Program Kerjasama ini adalah dalam bentuk pendampingan dan pembinaan sumber daya manusia yang juga sejalan dengan implementasi MBKM program studi Pariwisata UP.

Penandatangan Surat Kesepakatan antara 3 Lembaga,
diwakili oleh Lurah Nglanggeran, Ketua Indecon,
dan Dekan Fak. Pariwisata Universitas Pancasila (Juli 2021)
sumber: Indecon

 

Pada hari Kamis, 18 Agustus 2022 diadakan acara kegiatan pemaparan dan diskusi sebagai tindak lanjut dari kegiatan yang telah dilaksanakan dalam upaya meningkatkan pariwisata yang menyeluruh bagi seluruh lokasi dusun dusun di Desa Nglanggeran. Acara yang dibuka oleh Kepala Kalurahan bapak Widada, yang dihadiri juga dari perwakilan ke tiga Lembaga antara lain bapak Sugeng sebagai penggerak dan pengelola desa Wisata Nglanggeran, dan Bapak Mursidi selaku Ketua Pokdarwis, Bapak Ari direktur Indecon beserta ibu Wita dan tim, dan pihak Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila yang dihadiri oleh Ketua PPM, Ibu Yustisia Parfatima Mbulu, dan Ketua Pusat Kajian dan Pengembangan Pariwisata ( PKP2), ibu Sarojini Imran dan mahasiswa Fakultas Pariwisata UP, serta mahasiswa dari perguruan tinggi lainnya. Tamu undangan terdiri dari para pamong, BumDes, perwakilan dari BBJ, ketua RT, RW, PKK, maupun hadirin dari perwakilan masyarakat lainnya untuk mendengarkan pemaparan hasil analisa potensi wisata dari tim sukses bagi masyarakat. Tim sukses yang umumnya terdiri dari penggerak generasi muda desa yang didampingi tim Indecon dan mahasiswa yang sedang menjalani program PKL. Analisis meliputi potensi wisata yang ada di lima dusun desa Nglanggaran antara lain Dusun karangsari, Dusun Doga, Dusun Nglanggeran Kulon, Dusun Nglanggeran Wetan, Gunung Butak.

Acara Pertemuan di Balai Kalurahan Nglanggeran, 18 Agustus 2022
Sumber: Indecon

 

Kepala Kalurahan bapak Widada menjelaskan bahwa Desa Nglanggeran baru menyelesaikan beberapa pengeboran air bersih dan rencana pengembangan Water Boom di lahan yang masih milik lahan desa di Dusun Sarangsari, dengan harapan nantinya dapat menambah income masyarakat. Sementara Bapak Mursidi Ketua Pokdarwis Desa Nglanggeran menjelaskan saat ini sedang mempersiapkan rencana penyusunan RIPPARDA sebagai pedoman utama bagi pemerintah daerah dalam melakukan perencanaan, pengelolaan, dan pengendalian pembangunan kepariwisataan di daerah yang sangat penting untuk menindaklanjuti pengembangan dan sebagai acuan dalam pengembangan wisata di Desa Nglanggeran, yang diharapkan akan memberikan manfaat ekonomi dan manfaat pelestarian lingkungan.

Sementara pembangunan Prasarana dan sarana, diharapkan dari program lanjutan bantuan beberapa CSR dan dari Bank Indonesia yang bisa terus dilaksanakan. Telkomsel juga menawarkan sistem digitalisasi Desa Nglanggeran, sebagai kelanjutan dari pilot proyek di Gunung Kidul, Yogyakarta. Pengembangan harus dikelola dengan manajemen yang kuat. Digital sebagai alat menjaga akuntabilitas sehingga kondisi lingkungan desa menjadi lebih kondusif. Sejalan dengan pembuatan video dari Dinas Tata Ruang Provinsi DIY yang juga sedang dilaksanakan, sebagai data penyusunan anggaran untuk mendukung rencana pengembangan infrastruktur di desa Nglanggeran, seperti perbaikan jalan, tempat parkir terpadu serta sarana dan prasarana pendukung lainnya. Sementara kebijakan anggaran juga akan diramu untuk pengembangan geopark Gunungsewu yang dapat menunjang pariwisata di Desa Nglenggeran.

Direktor Indecon bapak Ari dalam penjelasannya menyatakan bahwa semakin tinggi perkembangan desa, maka kesatuan warganya harus semakin besar, karena perencanaan wisata sangat penting untuk mendorong peningkatan pendapatan desa, mendorong pengelolaan desa secara keseluruhan dan mendorong pertumbuhan sektor pendukung lainnya. Aset wisata desa Nglanggeran tidak saja wisata alam tetapi juga budaya yang tidak hanya berupa kesenian tetapi juga budaya tentang kehidupan sehari hari bisa dijadikan potensi wisata yang nyata. Pariwisata merupakan suatu aspek yang dimasukkan dalam kehidupan sehari hari masyarakat desa, yang bisa memberikan dampak positif maupun negatif.

Dampak negatif pariwisata tidak hanya seperti sampah, pencemaran air, penggunaan energi yang berlebihan, polusi suara, namun dampak negatif sosial budaya juga menjadi perhatian yang tidak kalah penting. Budaya yang dikomersialisasikan secara berlebihan ke arah eksploitasi untuk pariwisata, tanpa dipilah mana yang baik dan buruk akan menimbulkan pergeseran gaya hidup di desa. Akibat pengaruh budaya dari luar bisa menyebabkan perubahan hubungan antara keluarga atau pun warga, pariwisata berpotensi untuk mengubah kondisi yang sudah ada. Pak Ari menyatakan, “Pengembangan pariwisata itu bagus tapi harus dikelola bersama dengan baik. Di sinilah tugas Pokdarwis menciptakan suasana kondusif desa wisata”. Kerukunan bisa menciptakan kondisi yang kondusif, Pak Ari juga menambahkan bahwa, “Banyak faktor eksternal yang di luar kemampuan pemerintah daerah untuk mengatasi kondisi seperti wabah COVID, ancaman teroris, maupun perubahan iklim, sehingga perlu di antisipasi sejak dini jika pariwisata ingin terus berlanjut, desa punya kelebihan dengan ciri khas masyarakat desa yang suka bergotong-royong, toleransi, hal ini bisa menjadi kekuatan untuk menjaga lingkungan secara guyub dan regenerasi dalam pengelolaan agar generasi muda terus melanjutkan perencanaan generasi sebelum, kuncinya sumber daya manusia, bila SDMnya bagus, untuk regenerasinya juga akan bagus”.

Tiga prinsip yang perlu difokuskan dalam pengembangan Pariwisata, perlu adanya keseimbangan antara tujuan ekonomi, sosial dan ekologi lingkungan. Desa Nglanggeran yang sudah memiliki Sertifikat pariwisata berkelanjutan dengan nilai yang bagus dalam pelestarian alam, keterlibatan masyarakat yang tidak harus di bidang pariwisata tetapi aspek penunjang pariwisatanya juga perlu ditingkatkan. Dalam hal ini jaringan kerja Lembaga Pokdarwis perlu bersinerji dengan pemerintah kabupaten dan provinsi untuk mencapai sasaran, perlu dirancang SK baru untuk menyusun dan menerapkan kebijakan di desa, seperti persoalan penentuan zona, peraturan bangunan, dan akuntabilitas dalam proses, program dan kebijakan. serta penyusunan paket paket wisata, agenda acara wisata tahunan yang perlu ditata untuk event-event secara bergilir ke semua dusun berpotensi wisata yang baru dikembangkan.

Share with Your Friends